Resistensi Antibiotik, Kenapa Bisa Terjadi?

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Penemuan antibiotik adalah salah satu penemuan penting dunia medis yang menyelamatkan jutaan nyawa. Disebut sebagai obat dewa, antibiotik ampuh mengobati penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Namun, saat ini semakin banyak bakteri yang kebal terhadap antibiotik. Mengapa ini bisa terjadi? Apakah antibiotik kini tak ampuh lagi?

Resistensi antibiotik terjadi ketika bakteri mengembangkan kemampuan untuk mengalahkan obat yang dibuat untuk membunuh bakteri tersebut. Tiap tahun, setidaknya 2 juta orang di Amerika Serikat terinfeksi oleh bakteri yang resisten terhadap antibiotik, dan 23ribu orang meninggal karenanya. Bisa jadi, kasus resitensi antibiotik lebih besar terjadi di Indonesia atau negara berkembang lainnya, mengingat tren konsumsi antibiotik yang tidak sesuai diagnosis. Berapa kali anda diresepkan antibiotik untuk infeksi tenggorokan biasa, flu atau demam common cold semata?

Jika antibiotik kehilangan daya penyembuhannya, kita akan kembali bertarung melawan infeksi dan keseluruhan kesehatan publik akan terancam. Banyak teknologi medis yang bergantung pada kemampuan antibiotik melawan bakteri. Jika semua bakteri mengembangkan kemampuan resistensi, bersiaplah kembali ke zaman ketika luka gores sederhana bisa menyebabkan kematian.

Sebenarnya apa yang menyebabkan resistensi antibiotik? Sederhana jawabannya, penggunaan berlebihan antibiotik yang tidak tepat. Lihat saja begitu mudahnya kita membeli antibiotik tanpa resep di apotik atau toko obat. Tak hanya itu, banyak pasien yang merasa hanya antibiotiklah yang bisa menyembuhkan penyakitnya, yang sebenarnya bukan disebabkan bakteri. Dan tak jarang dokter dengan mudah pula meresepkannya sesuai permintaan, bukan kebutuhan.

Penyakit yang tidak disebabkan oleh bakteri tidak akan sembuh jika diobati dengan antibiotik. Alih-alih, anda membuat bakteri baik dalam tubuh mati atau malah berbalik menyerang tubuh dengan menjadi resisten. Jika memang terbukti penyakit disebabkan oleh bakteri, penggunaan obat yang tidak sesuai juga menyebabkan resistensi. Penyakit karena bakteri harus mendapatkan pengobatan penuh antibiotik dengan jangka waktu tertentu, antara 7-14 hari. Merasa membaik setelah tiga hari, jangan hentikan antibiotik, tetap konsumsi hingga seluruh antibiotik yang diresepkan habis.

Bakteri adalah mikroorganisme yang cerdas. Bakteri selalu mencari cara untuk bertahan hidup dan menangkal antibiotik. Jika sebuah bakteri berhasil menciptakan kekebalan terhadap antibiotik, ia mampu mengajarkan kemampuan ini kepada bakteri lain yang awalnya tidak resisten terhadap antibiotik tersebut. Inilah yang membuat perlawanan terhadap resistensi antibiotik menjadi semakin berat. Manusia hidup bersama dengan trilliunan jenis bakteri yang berbeda. Jika satu saja bakteri resisten, ia bisa mengajarkan semua bakteri dalam tubuh untuk resisten.

Sebagai contoh kasus, anda terkena infeksi tenggorokan biasa, namun anda mengkonsumsi antibiotik untuk meredakannya. Tak hanya tidak efektif, namun antibiotik akan membunuh bakteri baik pada pencernaan anda. Yang lebih buruk lagi, bakteri akan belajar untuk melawan antibiotik dan menciptakan kekebalan. Ketika anda benar-benar terkena infeksi tenggorokan karena bakteri (strepthroat), antibiotik tidak akan bekerja karena bakteri telah membentuk imunitas terhadapnya. Anda harus menggunakan antibiotik yang lebih keras atau lebih luas spektrumnya hanya untuk mengobati infeksi tenggorakan. Ini seperti mengebom seluruh negara hanya untuk melumpuhkan sebuah desa.

Contoh kasus di atas tidak terjadi hanya pada masa modern. Sejak ditemukan, antibiotik telah dianggap sebagai obat ajaib yang dipercaya memberi perlindungan bahkan sebelum terkena penyakit. Tentara pada masa Perang Dunia Kedua meminum antibiotik, yang saat itu dalam bentuk bubuk atau tablet sulfa, dengan harapan bahwa antibiotik tersebut mampu melindungi mereka dari penyakit. Begitulah resistensi muncul. Bahkan, tentara mempercayai keajaiban antibiotik sebagai pelindung saat mereka pergi berperang, memberikan efek psikologis dan fisiologis yang kuat. Jadi penyalahgunaan antibiotik ini juga menjadi sumber penyebab resistensi.

Ah mudah saja menemukan solusi resitensi antibiotik ini, ya teliti dan temukan antibiotik baru. Faktanya, proses penemuan antibiotik baru memerlukan biaya yang sangat besar, dan jika benar ditemukan antibiotik baru, keuntungan penjualan yang didapat tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Bahkan 30 tahun ke belakang, tidak ada penelitian untuk menemukan antibiotik baru.

Apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi resistensi antibiotik ini? Bijaklah menggunakan antibiotik. Pastikan bahwa penyakit yang kita derita sudah pasti disebabkan oleh antibiotik. Konsultasikan dengan dokter, diskusi dengan bekal yang cukup agar peresepan antibiotik tidak hanya untuk efek psikologis atau fisiologis saja. Jika penyebab penyakit bukan karena bakteri, jangan ragu untuk menghentikan pengobatan antibiotik. Jika yakin, jangan berhenti di tengah pengobatan, selesaikan pengobatan. Regulasi peredaran antibiotik juga harus ditingkatkan. Seharusnya tanpa resep, antibiotik tidak boleh dijual bebas. Mulailah dari diri sendiri, berawal dari langkah kecil menuju jangkauan yang lebih besar.

More to explorer

Puma Hoops Hadir di Tanah Air

PUMA secara resmi meluncurkan koleksi basket untuk pasar Indonesia, PUMA Hoops. Rangkaian koleksi PUMA Hoops yang sudah hadir yakni PUMA Clyde Court,

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *