Wireless Earphone Penyebab Kanker, Benarkah?

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Siapa siy yang ingin dianggap ketinggalan zaman? Di masa dimana teknologi terus berkembang dan inovasi tiada henti, kitapun mau tak mau mengikutinya. Begitu juga dengan wireless earphone. Memang terlihat keren kan, tanpa harus merasa repot dengan kabel panjang yang seringkali ruwet. Aktifkan bluetooth, dan earphone anda siap digunakan tanpa ribet. Simpel dan trendi. Tapi tunggu, Jerry Phillips, seorang professor biochemistry di Universitas Colorado, Amerika Serikat mengatakan bahwa pemakaian wireless earphone membuat jaringan di dalam kepala lebih rentan terpapar radiasi yang menyebarkan ketidaknormalan fungsi sel berujung tumor atau kanker. Jadi, apa kita harus kembali menggunakan earphone dengan kabel yang semrawut itu?

Kekhawatiran akan penggunaan wireless earphone muncul ketika sebuah majalah dari Amerika Serikat bernama Medium memuat kembali petisi tahun 2015 yang ditandatangani oleh lebih dari 250 ilmuwan dari 40 lebih negara. Petisi tersebut meminta agar PBB dan WHO memperketat standar regulasi dan pedoman penggunaan perangkat dengan teknologi bluetooth. Para ilmuwan tersebut memperingatkan pengguna bluetooth akan paparan radiasi yang meningkatkan kemungkinan resiko kanker. Pemakaian bluetooth memancarkan medan elektromagnetik tipe non-inonizing yang disebut dengan Radio Freaquency Radiatin (RFR). Penelitian pada tahun 2018 menunjukkan bahwa paparan RFR yang cukup tinggi dapat menyebabkan kanker pada spesimen tikus yang diteliti.

Sebagian besar ilmuwan setuju bahwa tidak ada level aman radiasi, namun sesungguhnya kita tidak bisa menghindari paparan radiasi. Dr. Michael Schulder, direktur pusat tumor otak Northwell Health di Amerika Serikat, menyatakan bahwa kita tidak bisa menghindari paparan radiasi walupun kita hidup tanpa teknologi yang memancarkan radiasi. Karena tak bisa dipungkiri, radiasi ada pada makanan yang kita makan, pada tanaman, ketika kita naik pesawat terbang, bahkan radiasi dari matahari. Jadi pada dasarnya, kita telah terpapar radiasi tanpa kita sadari.

Benar bahwa earphone wireless memancarkan radiasi. Namun harap diingat bahwa bukan hanya earphone yang menggunakan bluetooth. Petisi tahun 2015 tersebut tidak secara spesifik menyebut wireless earphone, namun semua yang memakai bluetooth seperti juga telepon genggam dan Wi-Fi memancarkan RFR dan dianggap sebagai perangkat yang harus diwaspadai. Mengetahui paparan radiasi bukan satu-satunya faktor yang menentukan dampak radiasi. Tingkat penyerapan tubuh akan radiasi atau Specific Absorbtion Rate (SAR) juga salah satu faktor yang harus diperhitungkan. Federal Communications Commision atau badan yang mengurusi teknologi komunikasi di Amerika Serikat mengatur batas SAR sebuah perangkat adalah 1,6 watt per kilogram. Wireless earphone merek Apple Airpod memiliki SAR sekitar 0,466 watt perkilogram. Meskipun masih di ambang batas yang disarankan, para ilmuwan memikirkan resiko kemungkinan pemakaian jangka panjang perangkat Bluetooth. Mereka meprediksi bahwa meski nilai SAR rendah, namun pemakaian terus menerus bluetooth dalam jangka waktu yang lama akan terakumulasi dan berbahaya bagi kesehatan.

Wireless earphone memancarkan radiasi yang lebih sedikit dibanding telepon genggam, gadget yang lebih sering kita gunakan. Penelitian terhadap kemungkinan tumor atau kanker pada pengguna telepon genggam pun belum dapat disimpulkan secara pasti. Hingga penelitian seutuhnya akan pengaruh radiasi bluetooth didapat, hanya pencegahan yang bisa kita lakukan. Jika anda ingin melakukan panggilan telepon atau mendengarkan musik dalam waktu yang lama, pilihan yang paling aman adalah dengan menggunakan mode speaker phone atau earphone berkabel. Sesekali menggunakan wireless earphone, masih dianggap aman. Nikmati teknologi, hindari adiksi.

More to explorer

Resistensi Antibiotik, Kenapa Bisa Terjadi?

Penemuan antibiotik adalah salah satu penemuan penting dunia medis yang menyelamatkan jutaan nyawa. Disebut sebagai obat dewa, antibiotik ampuh mengobati penyakit yang

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *