Gawat! Ini Alasan Ranitidine Ditarik Dari Peredaran.

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Anda pasti cukup familiar dengan obat yang bernama Ranitidine. Obat ini sering digunakan untuk penderita GERD atau Gastroesophageal Reflux Disease, kondisi dimana lambung mengeluarkan asam berlebih dan asam lambung tersebut naik ke kerongkongan. Masuk dalam golongan kelas obat H2 blocker, Ranitidine bekerja dengan mengurangi asam lambung. Sejak tahun 1989, BPOM telah menyetujui penggunaan obat ini, dalam sediaan tablet, sirup dan injeksi, melalui kajian evaluasi keamanan, khasiat dan mutu. Namun, pada tanggal 13 September 2019, FDA atau BPOM-nya Amerika Serikat menarik beberapa merek obat yang berbahan aktif Ranitidine. Dalam penelitian awal, ditemukan cemaran NDMA (N-Nitrosodimethylamine), zat ini bersifat karsinogenik atau menyebabkan kanker.

NDMA adalah zat kontaminan lingkungan yang ditemukan di air, juga di daging, susu atau sayuran. Zat ini diklasifikasikan sebagai karsinogen B2, artinya berpotensi menyebabkan kanker pada manusia. Menurut WHO, paparan NDMA yang cukup tinggi dapat menyebabkan kanker usus. Awalnya, NDMA digunakan sebagai bahan bakar roket, namun saat ini hanya digunakan sebagai bahan penelitian. Zat ini juga merupakan produk sampingan dari pabrik seperti pabrik penyamakan kulit, pembuatan pestisida atau pabrik karet dan ban. Bahkan proses klorinasi air minum dan air limbah, yang dilakukan untuk memurnikan air, secara tidak sengaja juga menghasilkan NDMA. Dalam kasus cemaran NDMA pada ranitidine,belum diketahui secara pasti bagaimana NDMA bisa mengkontaminasi. Bisa saja karena ranitidine sendiri tidak stabil dan mudah rusak sehingga membentuk NDMA dengan sendirinya, jika ini terjadi, obat ini bisa langsung dihentikan pemakaiannya. Atau bisa jadi NDMA muncul ketika jenis generik ranitidine dibuat di negara yang bagian pengecekan kualitasnya kurang, sehingga zat kontaminan NDMA dapat menyusup dalam produk akhir.

Nilai ambang batas cemaran NDMA yang diperbolehkan adalah 96 nanogram per hari. Benar bahwa dalam temuan awal penelitian FDA, cemaran NDMA dalam ranitidine jauh di bawah ambang batas, namun jika dikonsumsi terus menerus dalam jangka waktu yang lama, maka akan berpotensi menyebabkan kanker, karena secara kumulatif NDMA ini bersifat toksik bagi hati. Dengan alasan ini, BPOM telah memerintahkan Industri Farmasi pemegang izin edar ranitidine untuk melakukan penghentian produksi dan distribusi serta melakukan penarikan kembali. Pastikan anda mengerti mana saja obat yang mengandung bahan aktif ranitidine, karena obat ini bisa saja memiliki merek dagang yang berbeda dan bermacam-macam. Sementara itu, penelitian masih terus dilanjutkan untuk mengetahui apakah jumlah NDMA dalam sampel melebihi ambang batas aman.

Lalu, apakah penggunaan ranitidine dilarang sepenuhnya? FDA sendiri tidak seketika itu juga melarang penggunaan ranitidine. Namun, konsultasikan dengan dokter untuk penghentian atau penggantian dengan obat alternatif, seperti famotidine, cimetidine atau kelas obat Proton Pump Inhibitor seperti omeprazole.

Sebagai tambahan, FDA sejak Juli lalu juga telah merilis beberapa obat hipertensi yang mengandung NDMA, yaitu obat yang berbahan aktif valsartan, losartan dan irbesartan. Meskipun demikian, FDA tetap menekankan pentingnya keberlanjutan pengobatan ini sampai penyedia layanan kesehatan merekomendasikan obat penggantinya. Mulai sekarang, kenali obat-obatan yang anda konsumsi, ketahui bahan aktifnya, bukan hanya merek dagangnya.

More to explorer

Resistensi Antibiotik, Kenapa Bisa Terjadi?

Penemuan antibiotik adalah salah satu penemuan penting dunia medis yang menyelamatkan jutaan nyawa. Disebut sebagai obat dewa, antibiotik ampuh mengobati penyakit yang

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *