Vape Bukan Rokok Versi Aman

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

vape

Tak bisa dipungkiri bahwa menggunakan rokok elektrik atau vape telah menjadi sebuah tren yang digandrungi dan cepat menyebar. Bermunculan kafe-kafe vape yang selalu dipenuhi pelanggan. Vape diklaim sebagai pengganti rokok konvensional yang lebih aman. Bahkan vape dianggap mampu membantu perokok berat untuk berhenti berokok. Benarkah klaim ini?

Vape telah dikenal sejak tahun 1930an. Namun baru pada tahun 2003, ahli farmasi dan inventor bernama Hon Lik dari Cina mematenkan vape buatannya dan Ia kerap diakui sebagai penemu vape modern. Ketika Ayahnya yang perokok berat meninggal karena kanker paru, Ia memutuskan untuk berhenti merokok. Iapun menciptakan vape sebagai alternatif pengganti rokok.

Apa bedanya vape dan rokok konvensional? Jika perokok konvensional menghirup asap yang dihasilkan dari pembakaran tembakau, pengguna vape menghirup uap air serupa asap yang dihasilkan dari pemanasan dan penguapan cairan vape. Tampak lebih sehat ya, asap berbanding dengan uap air. Yang perlu diketahui sekarang adalah apakah uap air yang dihasilkan vape tidak mengandung zat berbahaya seperti asap rokok konvensional?

Baru-baru ini Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merilis data bahwa sejak Juli terjadi kenaikan penderita penyakit yang disebabkan vape hingga 805 kasus  di 46 negara bagian Amerika Serikat, 12 di antaranya meninggal. Banyak penderita penyakit tersebut yang membutuhkan oksigen tambahan bahkan harus memakai ventilator untuk bernafas. Apalagi, sebagian besar penderita adalah remaja dan dewasa muda. Penderita mengeluhkan gejala seperti batuk, sesak nafas, mual, kelelahan dan penurunan berat badan. Penelitian terus dilakukan untuk mengetahui penyebab pastinya. Kita tidak dapat mengabaikan fakta ini walaupun terjadi di belahan bumi lain. Melihat tren vape yang semakin berkembang di Indonesia, bisa jadi akan terjadi kenaikan kasus penyakit bersebab vape dalam waktu dekat.

Oke, mari kita bahas kandungan dari vape. Banyak klaim yang menyebutkan bahwa vape memiliki lebih sedikit zat berbahaya dibandingkan rokok konvensional. Namun, zat berbahaya tetaplah zat berbahaya. Laporan tahun 2018 dari National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine , Amerika Serikat mengumumkan hasil 800 lebih penelitian mengenai efek samping vape bagi kesehatan. Laporan tersebut menyebutkan bahwa vape mengelurkan zat beracun, termasuk zat kimia yang berpotensi merusak DNA. Jumlah dan jenis zat beracun yang dihasilkan bervariasi tergantung dari tipe alat dan cairan yang digunakan, serta penggunaan alat tersebut. Beberapa penelitian terbaru menemukan bahwa asap vape membahayakan pembuluh darah dan menyebabkan perubahan sel-sel yang mengarah pada penyakit paru-paru. Persis seperti bahaya rokok konvensional untuk tubuh.

Zat-zat yang terkandung di dalam vape juga mirip dengan zat yang terkandung dalam rokok konvensional. Hampir semua jenis vape mengandung nikotin. Nikotin yang menimbulkan rasa kecanduan ini juga menyebabkan kerusakan perkembangan otak pada remaja dan pada ibu hamil menyebabkan kemungkinan melahirkan premature dan berat bayi lahir rendah.

Vape juga mengandung Volatile Organyc Compound yang sering dipakai untuk membuat kabut dalam pertunjukan. VOC ini bisa menyebabkan iritasi mata, hidung, paru-paru dan tenggorokan. Terlebih lagi menghirup dalam jumlah tertentu menyebabkan kerusakan hati, ginjal dan sistem syaraf. Formardehide, zat karsinogenik yang ditemukan pula pada rokok konvesional, juga dapat terbentuk pada cairan vape yang terlalu panas.

Sulit mengetahui kandungan keseluruhan dari vape karena memang tidak ada yang mencantumkan secara spesifik dalam kemasannya. Namun, paru-paru kita didesain untuk menghirup udara. Selain itu tentu akan membahayakan fungsi organ pernafasan.

Butuh waktu lebih dari 20 tahun untuk menyadari bahaya rokok, tampaknya tidak butuh waktu lama untuk benar-benar mengetahui bahaya vape. Akankah kita mengulang kesalahan yang sama?

More to explorer

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *