3 Mitos Indeks Massa Tubuh yang Bisa Anda Abaikan

By:
Posted: April 12, 2019

SELAMA INI body mass index (BMI) atau indeks massa tubuh sering dijadikan tolok ukur kondisi kesehatan sesesorang. Tapi ingat, hanya tolok ukur. Karena untuk menilai kesehatan seseorang, banyak faktor yang harus dipertimbangkan selain BMI.
Mitos 1
BMI Rendah Berarti Anda SehatPunya tubuh yang gemuk selalu diasosiakan dengan hal-hal yang buruk, katakanlah tekanan darah tinggi, kadar gulah darah tinggi, dan kolesterol tinggi. Ini kemudian menjadi alasan bahwa jika Anda memiliki BMI rendah itu berarti Anda sehat. Terus terang saja, ini adalah kesimpulan yang salah. Dalam sejumlah penelitian yang mengamati BMI para penelitian menemukan, tidak ada korelasi antara indeks BMI yang tinggi dan soal kesehatan seperti tekanan darah tinggi dan kadar guila tinggi. Banyak orang yang masuk kategori obesitas memiliki BMI normal, dan banyak orang yang memiliki BMI rendah ternyata mempunyai tekanan darah, kadar gula darah, dan kolesterol tinggi.
Mitos 2
BMI Tinggi Tingkatkan Risiko Serangan JantungSeperti halnya kadar gula darah, tekanan darah, dan kolesterol, banyak penelitian menunjukkan adanya keterkaitan antara BMI yang tinggi dan risiko penyakit jantung. Dalam sebuah penelitian yang melibatkan 4.046 pasangan kembar identik ditemukan bahwa BMI yang tinggi tak meningkatkan risiko penyakit jantung. Pengamatan yang dilakukan oleh para peneliti selama 12 tahun terhadap para kembar ini menyebutkan, terjadi 203 serangan jantung dan 500 kematian terhadap mereka yang memiliki BMI tinggi, dan 209 serangan jantung dan 633 kematian bagi mereka yang memiliki BMI rendah. Bahkan mereka pasangan kembar yang memiliki BMI 30 atau lebih tinggi (masuk kategori obesitas) tidak mengalami peningkatan risiko serangan jantung.
Mitos 3
Makan Sehat dan Latihan Turunkan BMIOtot memiliki bobot lebih berat dari lemak. Jadi seseorang yang meningkatkan latihan dan mengonsumsi makanan sehat dalam rutinitasnya akan bertambah berat badannya. Dan itu bukan sesuatu yang buruk. Sehat bisa saja dimiliki orang dengan berbagai ukuran tubuh yang berbeda, ujar Rebecca Puhl, PhD, wakil direktur Rudd Center for Food Policy & Obesity.

Hey, like this? Why not share it with a buddy?

Related Posts