Bahan dapur yang berbahaya bagi kulit wajah wanita

By:
Posted: April 10, 2019

KULIT WAJAH. Beberapa bahan dapur dapat menimbulkan (seperti) luka bakar hingga infeksi, alih-alih mencerahkan wajah.
Tren perawatan wajah DIY (do it your self) bertebaran di internet. Alhasil, kita pun cenderung mengoleskan beberapa bahan "aneh" ke kulit sebagai minimizer pori terbaru atau penghilang jerawat. Sayangnya, tidak semua panduan dari internet tersebut merupakan saran bijak.
Parahnya, beberapa bahan yang kita olah sedemikian rupa dengan beragam metode malah
merusak kulit, meski dampaknya terjadi tidak secara langsung (jangka panjang). Oleh sebab itu, pikirkan dua kali tentang metode DIY dari lemari es dan dapur untuk beberapa bahan di bawah ini:

Putih telur


Kita pasti sering mendengar bahwa mengoleskan putih telur akan membuat wajah lebih kencang dan cerah. Harapan akan pori-pori yang lebih kencang dan kulit halus pun sempat dirasakan. Klaim ini didukung oleh pemakai masker wajah putih telur lainnya.
Sayangnya, klaim tersebut tidak diimbangi dengan resiko yang mungkin bisa terjadi. Salah satunya soal telur mentah yang terkontaminasi dengan Salmonella. Ketika menempatkan telur mentah begitu dekat dengan mulut, maka resiko tertular infeksi saluran pencernaan amat besar.
Selain itu, ada pula resijo infeksi lokal pada kulit. Khususnya, bagi kita yang memiliki luka terbuka. Ini akan memperbesar resiko inveksi. Kabar baiknya, beberapa virus yang tadi dijelaskan sangat jarang ditemukan di toko yang telah meng-pasteurisasi. Pasteurisasi merupakan proses pemanasan makanan dengan tujuan membunuh organisme merugikan seperti bakteri, protozoa, kapang, dan khamir dan suatu proses untuk memperlambatkan pertumbuhan mikroba pada makanan.
Oleh sebab itu, ada baiknya hindari menggunakan telur yang tidak higienis untuk bahan perawatan kulit wajah.

Jus lemon atau jeruk nipis


Jus lemon atau jeruk nipis pada bekas luka jerawat atau hiperpigmentasi selalau dikatakan mampu menghapus bercak-bercak noda tersebut. Sayangnya, hal ini tidak 100% benar. Jus lemon dan jeruk nipis nyata bisa membuat kulit wajah seperti mendapat luka bakar tingkat dua.
Psoralens dalam lemon dan limau dapat menyebabkan reaksi fototoksik pada kulit ketika terkena sinar UV. Alhasil, upaya kita menghapus titik merah dapat menghasilkan bekas terbakar yang lebih besar. Ruam atau luka bakar, disebut phytophotodermatitis, sering muncul satu hingga tiga hari setelah kulit terkena matahari. Kondisi ini akan bertahan selama berbulan-bulan.

Kayu manis


"Masker-cinna" sangat terkenal dan banyak ditiru oleh netizen. Sayangnya, tidak semua orang cocok menggunakan masker dari kayu manis. Apabila dipaksakan, maka kulit wajah terlihat seperti terbakar.
Memang, secara medis sudah terbukti bahwa kayu manis memiliki manfaat antimikroba dan dapat digunakan dalam penyembuhan luka. Sayangnya, beberapa orang memiliki alergi terhadap kayu manis. Meskipun tidak alergi dengan kayu manis, kulit kita pun bisa tetap hipersensitif terhadap "bumbu dapur" ini. Akiabtanya, kulit akan terbakar.
Apabila tertarik memakai kayu manis untuk masker, cobalah menempelkannya terlebih dulu pada titik kecil di depan daun telinga.

ASI


Facial ASI sempat populer. Pro-kontra pun menyertainya. Selama beberapa tahun ini, Facial ASI sering diidentikkan dengan pengobatan jerawat. Alasannya, ASI mengandung asam laktat dan laurat. Kedua zat ini bermanfaat sebagai penyembuh kulit dan antimikroba pada kulit berjerawat.
Akibat dari miss-informasi ini, beberapa orang tertarik beralih dari facial pabrikan dengan facial alami ini. Sayangnya tidak banyak yang tahu. ASI adalah cairan tubuh yang dapat menjadi media perpindahan penyakit penyakit. Dan lagi, tata cara pengumpulan dan penyimpanan yang tidak higienis malah membuatnya menjadi sarang bakteri. Oleh sebab itu, tanyakan soal manajemen pengelolaan dan penyimpanan ASI sebelum menggunakannya di wajah.

Hey, like this? Why not share it with a buddy?

Related Posts