10 Suplemen Vitamin dan Mineral yang Sebaiknya Dihindari Sport Enthusiast

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

YA, KAMU TAHU ANDA adalah sport enthusiat yang luar biasa. Dan kami juga yakin, untuk membantu aktivitas fisik, Anda menggunakan beberapa jenis suplemen vitamin maupun mineral. Namun tahukah Anda, jika pemenuhan kebutuhan vitamin dan mineral sebaiknya dilakukan dengan mengonsumsi makanan yang sesungguhnya, bukan dari suplemen.
Jika memungkinkan, sumber nutrisi dari makanan adalah pilihan utama, ujar Brianna Elliott, RD, LD. Berikut ini 10 suplemen vitamin dan mineral yang sebaiknya dikurangi atau dihentikan penggunaannya oleh para sport enthusiast, khususnya pelari… mulai sekarang!
#1 Vitamin C dan E
Apa? Saya tidak bisa mengonsumsi suplemen yang menyodorkan antioksidan? Ya… dan itu fakta yang harus Anda pahami. Selama ini Anda, para sport enthusiast, mungkin mengonsumsi suplemen kedua vitamin itu karena percaya jika vitamin C dan E bisa memerangi radikal bebas yang diproduksi tubuh ketika berolahraga. Ya, tentu saja mereka bisa, tetapi itu adalah masalahnya.
Para ilmuwan sekarang memahami jika sedikit produksi radikal bebas adalah bagian alami dan yang diperlukan dalam adaptasi latihan. Tubuh Anda memproduksi antioksidan sendiri untuk menyingkirkan radikal bebas setelah latihan keras. Dalam perkembangannya, ketika rutinitas latihan melekat pada keseharian, tubuh Anda makin baik melakukannya kecuali Anda berusaha mendapatkan antioksidan ekstra dengan mengonsumsi suplemen.
Mengonsumsi suplemen antioksidan dalam dosis tinggi akan menghalangi performa ketahanan fisik karena hal ini mencegah proses adaptasi, ujar ahli nutrisi olahgara dan fisiologi dari Stanford, Stacy Sims, PhD. Selain itu, review terhadap 11 penelitian tentang vitamin C and vitamin E telah merekomendasikan penggunaan suplemen antioksidan dalam dosis tinggi karena bukti-bukti yang ada tidak mendukung manfaat yang diklaim. Suplementasi vitamin E juga dikaitkan dengan peningkatan (dalam persentase kecil) kanker dan kanker. Dan dari kedua hal tersebut tidak ada yang bagus.
Sebaiknya Anda memperoleh pasokan vitamin C dan E dari makanan yang Anda konsumsi. Buah-buahan dan sayuran adalah gudang vitamin C. Jadi sangat mudah untuk mendapatkan 75 miligram (untuk wanita) hingga 90 miligram (untuk pria) yang Anda butuhkan tiap hari. Ya, untuk mendapatkan 15 gram vitamin E memang butuh sedikit upaya. Tetapi bukan berarti hal itu tidak mungkin dilakukan.
#2 Vitamin A dan Betakaroten
Ini faktanya: Dua penelitian besar pada lebih dari 47.000 perokok yang mengunakan betakaroten akhirnya dihentikan setelah mereka yang mengonsumsi suplemen antioksidan tersebut mengidap kanker dan penyakit jantung dalam jumlah lebih banyak ketimbang mereka yang mengonsumsi placebo. Para peneliti menemukan, meski makanan yang kaya kandungan betakaroten memberikan perlindungan terhadap perokok, penggunaan suplemen antioksidan ini dalam dosis tinggi yang terlihat membentengi tubuh dari radikal bebas, juga memberikan ancama besar. Hal terburuknya, sebuah studi pada pada partisipan yang sama menemukan, bahkan satu dekade setelah menghentikan penggunaan suplemen betakaroten, mereka tetap berisiko tinggi dengan kanker dan kematian. Dapatkan kebutuhan 700 mikrogram (untuk wanita) hingga 900 mikrogram (untuk pria) vitamin A melalui makanan seperti buah-buahan dan sayuran berwarna cerah.
#3 Vitamin D2
Kekurangan vitamin D telah menjadi perbincangan selama bertahun-tahun. Penelitian menunjukkan, kekurangan vitamin D biasa menimpa atlet, dan lebih dari seperempat populasi dunia memiliki kadar vitamin D yang rendah. Ini tentu saja kabar buruk.Vitamin D sangat dibutuhkan untuk membangun dan memelihara tulang yang kuat serta mengoptimalkan fungsi otot dan prose pemulihan.
Meski kebutuhan vitamin D sejumlah 400 IU bisa Anda penuhi dengan terpaan sinar matahari dan sumber alami dari makanan seperti susu yang diperkuat atau ikan berlemak, Anda bisa memanfaatkan suplemen vitamin ini. Apalagi jika Anda jarang mendapat terpaan sinar matahari langsung dan jarang mengonsumsi makanan-makanan seperti di atas. Sebuah studi pada 2013 yang dipublikasikan di jurnal Nutrients melaporkan, atlet yang mengonsumsi suplemen vitamin D2 mengalami kerusakan otot lebih berat ketimbang mereka yang menggunakan placebo setelah berlatih keras di dym.
Jika Anda ingin menggunakan suplemen, konsumsi vitamin D3, seperti yang dibentuk tubuh saat kulit mendapatkan terpaan sinar matahari. Anda juga bisa mendapatkan vitamin D dari makanan seperti ikan, jamur, dan produk susu yang diperkuat vitamin ini, ujar Elliott.
#4 Kalsium
Anda merasa terkejut? Mengonsumsi suplemen kalsium untuk melindungi tulang adalah nasehat kuno. Saat ini, hal itu bukan lagi sebuah nasehat yang bagus. Pada 2013, Preventive Services Task Force Amerika Serikat merekomendasikan wanita pascamenopause agar menghindari pengonsumsian suplemen kalsium setelah mereview lebih dari 135 penelitian. Studi-studi tersebut menyimpulkan, suplemen kalsium tidak mencegah kerusakan tulang. Bahkan lebih buruk lagi, terdapat bukti yang sedang berkembang jika suplemen kalsium meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. Dalam sebuah studi terhadap 400.000 orang, men and women, pria yang mengonsumsi suplemen kalsium lebih dari 1.000 miligram mendapatkan ancaman penyakit jantung 20 persen lebih besar ketimbang yang tidak menggunakan suplemen. Para peneliti meyakin, mineral ini cenderung diserap di dinding arteri ketimbang tulang.
Sebetulnya Anda bisa dengan mudah mendapatkan 1.000-1.200 miligram kebutuhan kalsium harian melakukan produk susu dan ikan.
#5 Asam Folat
Kecuali Anda hamil (dalam hal ini selalu konsultasikan dengan dokter), mengonsumsi suplemen vitamin B dalam dosis tinggi yang mungkin membantu Anda mencegah bayi lahir cacat, anemia, dan penyakit jantung bisa berdampak buruk pada kesehatan Anda. Pebelitian terbaru menunjukkan, asam folat dalam dosis tingi justru menurunkan sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko kanker. Mineral banyak dikandung berbagai jenis makanan. Jadi sangat mudah untuk mendapatkan 400 mikrogram yang Anda butuhkan tiap hari. Anda bisa memperolehnya dari buah-buahan, sayuran hijau (terutama bayam), kacang-kacangan, polong-polongan, buncis, produk susu, biji-bijian, daging, unggas, telur, dan produk laut.
#6 Kreatin
Sejak lama suplemen asam amino ini menjadi favorit para pelari cepat karena membantu membangun otot dengan dengan menarik air ke sel-sel otot dan meningkatkan sintesa protein. Dan meski sudah diuji dan dinyatakan aman, suplemen ini berpengaruh pada ginjal (karena manarik air ke otot yang dicurigai memberikan kontribusi terhadap dehidrasi, kram otot, dan beberapa gangguan kesehatan lainnya). Lebih baik Anda mendapatkannya dari sumber alami seperti daging sapi dan ikan hering.
#7 Magnesium Oksida
Pelari membutuhkan banyak magnesium, Mineral elektrolit memainkan peran vital untuk mengendalikan kadar gula darah dan kontraksi otot. Selain itu, magnesium terlibat dalam lebih dari 300 reaksi biokimia di tubuh. Beragam penelitian menunjukkan, banyak orang yang kekurangan magnesium. Jadi mengonsumsi suplemen magnesium bukan sebuah gagasan yang buruk. Namun ingat, Anda perlu yang bisa diserap tubuh. Dan magnesium oksida bukan pilihan yang bagus karena susah diserap tubuh.
Sebaiknya memilih suplemen magnesium glycinate. Lebih baik lagi tingkatkan konsumsi Anda pada makanan yang kaya magnesium seperti sayuran hijau, kacang-kacangan, ikan berlemak, apokat, pisang, dan biji-bijian.
#8 Vitamin B Kompleks
Vitamin B membantu konversi makanan menjadi energi yang Anda butuhkan untuk melakukan aktivitas fisik. Namun tidak ada alasan untuk menambah pasokan vitamin B ke tubuh dengan menggunakan suplemen. Vitamin ini banyak terdapat di berbagai jenis makanan, mulai buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan yang lainnya. Mengonsumsi lebih dari jumlah yang Anda butuhkan hanya membuang-buang uang saja. Dan dalam sejumlah kasus seperti vitamin B6 dan B12 bisa memberikan dampak yang merugikan kesehatan tubuh Anda.
#9 Multivitamin
Sebuah penelitian selama 19 tahun terhadap lebih dari 38.000 wanita menemukan, mereka yang mengonsumsi suplemen multivitamin, meningkatkan risiko kematian selama periode studi hingga (rata-rata) 2,4 persen lebih tinggi ketimbang mereka yang tidak menggunakannya. Ya, memang itu bukan persentase yang besar, dan tidak ada sebab maupun akibat yang bisa dibuktikan. Namun penelitian baru selalu menunjukkan bagaimana (suplemen) vitamin dan mineral dalam dosis yang tinggi yang melebihi kebutuhan Anda tidak sepadan dengan risiko dan uang yang Anda keluarkan.

More to explorer

DANAMON RUN 2019 Kembali Digelar

PT Bank Danamon Indonesia Tbk (“Bank Danamon” atau “Bank”) akan menggelar kembali ajang lari Danamon Run, lomba lari dengan konsep unik dan

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *