Johanes Tedjo Handoko: IRONMAN Membangun Gaya Hidup Sehat Saya

By:
Posted: December 27, 2018

ADA BANYAK PILIHAN dalam kehidupan ini. Soal gaya hidup, misalnya: Anda bisa memilih hidup lebih sehat atau hidup enak dan nyaman, namun tidak sehat. Dan tentu saja, pilihan ada di tangan Anda. Johanes Tedjo Handoko, seorang sports enthusiast, memilih yang pertama... hidup lebih sehat, hidup lebih baik.
Keinginan untuk melihat anak-anaknya tumbuh besar dan faktor keluarga adalah pemicu motivasi untuk menerapkan gaya hidup sehat. Demi pilihan ini, pria kelahiran Semarang ini rela mengatur pola makan, berolahraga secara rutin, dan mengelola waktu istirahatnya. “Jika tubuh dan pikiran saya sehat, saya akan memiliki lebih banyak waktu untuk menikmati hidup bersama keluarga,” ujar pria yang akrab dipanggil Tedjo ini.
Pilihan ini yang kemudian juga mengantarkan Tedjo menggeluti triathlon – sebuah cabang olahraga yang mengombinasikan tiga disiplin olahraga: renang, sepeda, dan lari. “Bagi saya, triathlon bukan hanya sekedar olahraga, tetapi sebuah gaya hidup. Olahraga saya ini mendorong saya untuk mengatur pola makan, melakukan aktivitas fisik (baca: latihan) secara teratur, dan menyiapkan waktu istirahat yang memadai. Rangkaian hal tersebut, selain membuat saya membangun konsistensi menjalani gaya hidup sehat, juga meningkatkan performa saya di triathlon,” ungkap pria 41 tahun ini.


Pria kelahiran Semarang, 10 Desember 1978 ini mengaku, perlu waktu sampai akhirnya ia menggeluti triathlon sebagai sebuah gaya hidup. “Motivasi awal saya sederhana: Ingin menurunkan berat badan hingga berada di proporsi yang ideal. Mengapa? Di tahun 2010, saya mengalami obesitas. Saat itu, berat badan saya mencapai 115 kilogram. Di titik tersebut, mencuat keinginan untuk berubah – menjalani hidup lebih sehat dan lebih baik.”
Berbagai upaya dilakukan Tedjo, mulai berolahraga secara rutin dan mengatur pola makan untuk menurunkan berat badan. Seiring berjalannya waktu, perubahan postif terjadi. Berat badannya mulai menuju proporsi ideal.
Pada suatu waktu, di 2013, ia menonton tayangan tentang IRONMAN di sebuah kanal di Youtube. Sejak saat itu Tedjo bercita-cita menjadi seorang IRONMAN. “Di pikiran saya, it will be an ultimate purpose dari seorang former fatboy menjadi seorang Ironman,” cerita Tedjo.
Lebih lanjut diekemukakan, saat itu dirinya juga ingin membuktikan jika seorang dengan obesitas dan skoliosis juga dapat menjadi seorang finisher IRONMAN seperti layaknya kontestan lain di lomba olahraga ketahanan ini. IRONMAN, papar Tedjo, merupakan sebuah brand untuk lomba triathlon. Namun di kejuaraan ini, partisipan harus berenang sejauh 3,8 kilometer, bersepeda 180 kilometer, dan berlari sejauh 42,195 kilometer.
Olahraga ini, papar Tedjo, memerlukan ketahanan fisik yang tinggi. “Butuh latihan terstruktur, variatif, dan hal-hal penyokong lainnya untuk membangun ketahanan fisik yang dibutuhkan untuk mengikuti lomba IRONMAN,” ujarnya. “Selain itu, triathlon juga memacu adrenalin dan jiwa kompetitif. Sebagai contoh, misal kemampuan kita terbatas di salah satu disiplin olahraga, tetapi di disiplin lainnya mungkin kita unggul. Hal ini bisa dijadikan bahan strategi agar kita meraih hasil lomba yang memuaskan,” kata sulung dari dua bersaudara ini.
Untuk meraih hasil yang diinginkan saat mengikuti lomba triathlon, Tedjo menggunakan jasa seorang pelatih untuk membangun program latihan yang terstruktur bagi dirinya. Tujuannya, saat lomba tubuhnya sudah beradaptasi dengan jarak dan tantangan lomba yang diikuti.
Tedjo mengaku, setiap pagi sebelum berangkat kantor ia pasti melakukan olahraga sesuai dengan program dari pelatihnya, mencoba tidur dengan lebih baik dan mengonsumsi makanan yang baik bagi tubuh.
“Saat mempersiapkan diri mengikuti lomba, hal yang paling penting adalah latihan dan latihan. Program latihan yang terstruktur membantu saya meningkatkan performa sekaligus meminimalkan risiko cedera. Tentu saja hal ini harus ditunjang pola makan yang tepat dan kecukupan waktu istirahat,” tambah bapak dua anak ini.


Meski sudah sering mengikuti lomba triathlon atau IRONMAN, selalu ada saja rasa gelisah yang hadir ketika akan berlomba. Kegelisahan itu, akunya, disebabkan kecemasan yang muncul dari rasa pesimis bahwa ia tidak bisa finish atau menyelesaikan lomba.
“Biasanya saya mengatasi kecemasan itu dengan menonton ratusan videoclip tentang lomba IRONMAN di Youtube. Apabila orang lain bisa melakukannya, “Why I am not?”. Ini yang membuat saya selalu termotivasi,” ujarnya.
Motivasi seperti inilah yang membuat Tedjo berhasil menyelesaikan berbagai lomba dan menjadi finisher di berbagai ajang yang terbilang berat. Di tahun 2018, Tedjo telah mengikuti delapan lomba olahraga ketahahan, seperti IRONMAN 70.3 Taitung (Taiwan), Duathlon Powerman (relay), Sungailiat Triathlon (Olympic distance), IRONMAN 70.3 Chita (Jepang), IRONMAN 70.3 Jeju (Korea Selatan), Titan Run (10K), 2XU Compression Run Indonesia (half marathon – 21K), dan IRONMAN 140.6 Tempe Arizona (Amerika Serikat).
“Target saya di tahun 2019 adalah menyelesaikan tiga lomba olahraga ketahanan: IRONMAN 70.3 Bangsaen (Thailand), London Marathon, IRONMAN 140.6 Frankfurt (Jerman). Saya akan berlatih dengan lebih baik untuk mencapai mimpi-mimpi saya tersebut,” ujar finalis Fitness First New You Achievement Award 2013.

Hey, like this? Why not share it with a buddy?

Related Posts