Marco Olmo: Pria yang Mampu Menghentikan Waktu

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

DI DUNIA OLAHRAGA, jika ada yang bisa membuktikan usia hanya sekadar angka, salah satunya pasti Marco Olmo. Pelari ultra kelahiran 8 Oktober 1948 menjadi juaraUltra-Trail Du Mont-Blanc(UTMB) salah satu lomba lariultra-trailpaling bergengsi di dunia saat usianya 58 tahun. Hal itu terjadi pada 2006. Dan tidak terjadi sekali saja, tahun berikutnya prestasi yang sama diulanginya lagi, ketika dirinya berusia 59 tahun. Padahal lomba ini memiliki lintasan lari di atas 150 kilometer.
Kemenangan-kemenangan itu tidak pernah menghentikan ayunan kaki Marco Olmo. Di 2008, pria ini menjuaraiThe North Face Transgrancanaria2008 (115 kilometer).Dua tahun tahun lalu, Marco Olmo menjuaraiUltra Bolivia Race2016. Pria yang tahun ini genap berusia70 tahun ini masuk finish dengan catatan waktu 16:44:10 di lomba lari sejauh 170 kilometer tersebut. Ukiran waktu yang dicatatkan memecahkan rekor di lomba ini yang sebelumnya dipegang Tommy Chen (18:25:03).
Marco Olmo lahir di Robilante, sebuah kota kecil di Piedmont Alps, Vermenagna Valley, tidak jauh dari Cuneo. Ia terlahir dari sebuah keluarga pedesaan dan bekerja sebagai pengemudi truk sebelum menjadi pegawai grup Buzzi Unicem, yang telah dilakoninya selama 25 tahun.
Dalam kehidupan nyata saya adalah pecundang. Saya berlari untuk melakukan balas dendam. Saya berlari untuk pembalasan, ujarnya.
Kisah hidup dan perjalanannya di dunia lari yang menarik ini didokumentasikan oleh Paolo Casalis dan Stefano Scarafia dalam film dokumenter berjudulIl Corridore/The Runner.
Marco Olmo mulai berlari pada usia 26 tahun. Namun berbagai kemenangan baru mulai diraihnya di usia senja. Namanya mulai tersohor saat memenangi UTMB pada 2006 dan 2007. Titel juaranya direbut pelari muda berbakat Kilian Jornet yang usianya kurang dari separuh umurnya pada 2008. Namun dua kemenangan di UTMB telah mengukir namanya di buku sejarah dan menempatkan dirinya sebagai pelari tertua yang pernah menjuarai lomba lari bergengsi tersebut.
Soal olahraga yang ditekuninya? Saya tidak tahu apa itu. Saya berlari untuk lari, naik-turun gunung. Saya pikir itu adalah kehidupan yang indah. Makanan selalu tersedia di sana, orang-orang selalu membantu, dan tidak membutuhkan apapun. Tidak seperti sekarang ketika Anda memiliki segalanya.


MENGHENTIKAN WAKTU
Analisa statistik menunjukkan, kemampuan seorang atlet mulai menurun secara drastis setelah menginjak usia 40 tahun. Sebagian penurunan ini terkait dengan kemampuan menghirup oksigen, kekuatan tubuh atas-bawah, fleksibilitas, dan tenaga eksplos. Namun Marco Olmo menemukan kompensasi berkurangnya kemampuan seiring dengan pertambahan umurnya menjadi vegetarian.
Pria yang memiliki tinggi badan 181 sentimeter, berat 66 kilogram, dan detak jantung 34-35 di zona istirahat ini telah menjadi vegetarian sejak usianya berada di pertengahan 30-an. Bagi saya, hewan adalah makhluk hidup, bukan hidangan. Selain itu, vegetarian akan menyelesaikan banyak tragedi kelaparan di dunia, ujarnya.
Marco Olmo tidak menjalani program latihan yang rumit. Tiap hari dirinya cukup berlari 1,5 jam, dengan long run sekitar 5 jam saat mendekati lomba. Di luar ketenaran yang mulai diraihnya saat menjuarai UTMB, Marco Olmo telah berpartisipasi. Filosofi dan rutinitas ini yang mengantarkannya tetap bertahan di jajaran papan atas pelari ultra dan menjadikannya legenda dengan julukan Pria yang Sanggup Menghentikan Waktu.

More to explorer

5 Cara Bebas dari Gangguan Kesehatan

HARI-HARI selalu berada di bawah ancaman bahaya, mulai dari smartphone yang berdering ketika sedang mengemudikan kendaraan hingga gambar porno kiriman teman yang

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *